21 Sep 2023

Hasrat dalam Keheningan: Mengenal Blind Football dan Semangat Sejati Olahraga

Video: BBC News Indonesia - Perjuangan membangun timnas tunanetra Indonesia.

Sepak bola sebagai olahraga paling populer di muka bumi adalah sebuah kenyataan yang sulit dibantah. Dalam berbagai kesempatan, olahraga ini mendatangkan keramaian dan suasana gegap gempita para suporter. Selain itu, intensitas di dalam dan di luar lapangan sering kali sangat tinggi. Walaupun semangat olahraga yang sebenarnya adalah menjalin persahabatan, terkadang intensitas persaingan yang berlebihan mengalahkan semangat tersebut, yang pada akhirnya memicu konflik-konflik yang tidak perlu.

Namun, ada sebuah olahraga turunan dari sepak bola yang memiliki atmosfer berbeda dengan induknya: Blind Football. Olahraga ini dikhususkan untuk para tunanetra, meskipun mereka yang berpenglihatan awas juga bisa terlibat sebagai kiper atau pemandu.

Lapangan Blind Football mirip dengan futsal, hanya saja di sekeliling lapangan dilengkapi papan pantul (kickboards) setinggi satu meter untuk menjaga bola tetap dalam permainan dan membantu navigasi suara. Area gerak kiper pun sangat terbatas, yakni hanya boleh bergerak dua meter ke depan dan lima meter di sepanjang garis gawang. Bolanya pun dirancang khusus agar mengeluarkan bunyi gemerincing saat bergulir.

Olahraga ini dimainkan oleh empat orang pemain tunanetra dan seorang kiper awas. Selama permainan, pemain wajib berteriak "Voy!" (bahasa Spanyol untuk "Aku datang") saat mendekati atau mengejar bola guna membantu navigasi sekaligus mencegah tabrakan antarpemain. Di lapangan, terjadi "estafet suara": kiper memberi komando saat bertahan di zona 13 meter belakang, pelatih mengarahkan di zona tengah, dan seorang pemandu gawang (goal guide) berdiri di belakang gawang lawan untuk mengetuk tiang gawang serta memberi petunjuk suara bagi penyerang. Uniknya, penonton harus membisu total selama bola bergerak dan hanya boleh bersorak setelah terjadi gol.

Permainan ini berlangsung selama 15 menit waktu bersih di tiap babaknya. Untuk mengatur jalannya laga, terdapat empat orang wasit yang memiliki tugas unik dibandingkan wasit konvensional; mereka tidak hanya mengawasi pelanggaran fisik, tetapi juga mengadili dan mengatur kemunculan suara, mulai dari teriakan pemain, instruksi pelatih, hingga memastikan keheningan di tribun penonton.

Sejarah olahraga ini bermula dari Brasil pada tahun 1960-an. Awalnya, para siswa di sekolah tunanetra membungkus bola dengan plastik agar terdengar bunyinya. Olahraga ini berkembang pesat hingga kejuaraan nasional pertama diadakan pada tahun 1980. Dunia mulai mengakuinya secara resmi saat federasi IBSA menetapkan standar internasional pada 1996, hingga akhirnya melakukan debut bersejarah di Paralimpiade Athena 2004. Sejak itu, ajang ini memiliki "Piala Dunia"-nya sendiri (IBSA World Championship) yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi lahirnya teknik tingkat tinggi.

Jika di pertandingan sepak bola konvensional sering dijumpai rivalitas yang mengarah pada konflik, di ajang para-sport justru semangat kebersamaan yang lebih menonjol. Berbagai tinjauan ilmiah sosiologi olahraga menyebutkan bahwa di ajang disabilitas, fokus bergeser dari sekadar hasil akhir ke penghargaan atas proses. Para atlet berbagi pengalaman hidup yang serupa dalam menghadapi tantangan, sehingga muncul rasa hormat yang mendalam kepada lawan. Di sini, olahraga bukan sekadar kompetisi fisik, melainkan alat transformasi sosial untuk mengikis stigma dan menunjukkan martabat manusia melalui keteguhan hati.

Melalui tulisan singkat ini, setidaknya tersaji setitik pengetahuan bagi mereka yang belum mengenal Blind Football. Ternyata, di satu sudut dunia olahraga yang saat ini penuh dengan rivalitas tajam, masih ada semangat kebersamaan dan persahabatan murni yang dikedepankan oleh para penggiatnya.