20 Mei 2024

Penyimpanan Ajaib pada Untaian DNA

Struktur DNA dan Basa Nitrogen

Ilustrasi: Struktur Double Helix DNA (Sumber: Wikipedia)

Waktu itu, Budi merasa sudah sangat canggih saat kantongnya berisi sebuah USB Flashdisk berkapasitas 4 GB. Beberapa tahun kemudian, ia beralih menggunakan Micro SD sekecil kuku yang mampu menampung ribuan foto. Kini, Budi bahkan tidak lagi membawa benda fisik; semua datanya "melayang" di penyimpanan awan (Cloud Storage) yang bisa ia akses kapan saja.

Namun, di balik kemudahan yang dinikmati Budi, ada kenyataan yang masif. Setiap menit, manusia di seluruh dunia menghasilkan jutaan video, foto, dan dokumen. Aktivitas digital kita telah menciptakan ledakan data yang sangat dahsyat, yang menuntut tempat penyimpanan yang semakin besar pula.

Menara-Menara Silikon yang Rakus

Untuk menyimpan onggokan data global tersebut, perusahaan raksasa harus membangun fasilitas yang disebut Pusat Data (Data Center). Bayangkan sebuah gudang raksasa seukuran beberapa lapangan bola yang berisi ribuan rak server. Gedung-gedung ini sangat rakus; mereka membutuhkan pasokan listrik yang sangat besar hanya untuk menjaga suhu mesin agar tidak terbakar.

"...Segala hal, mulai dari foto senyum Budi hingga lagu favoritnya, dipecah menjadi kombinasi tak terhingga dari angka 0 (mati) dan 1 (nyala). Fasilitas raksasa tadi sebenarnya hanyalah sebuah 'wadah fisik' yang sangat besar untuk menampung saklar elektronik kecil yang merepresentasikan angka-angka biner tersebut. Di dalam sebuah chip memori yang sekecil ujung jari pun, sebenarnya terdapat milyaran saklar mikroskopis yang bekerja tanpa henti untuk menjaga data-data tersebut tetap ada."

Efisiensi Kode: Mengapa DNA Lebih "Irit"?

Namun, tahukah Anda bahwa di dalam tubuh Budi sendiri sebenarnya sudah ada teknologi penyimpanan yang jutaan kali lebih hebat? Itulah DNA. Jika komputer menggunakan biner (0 dan 1), DNA menggunakan sistem kuaterner dengan empat huruf: A, C, G, dan T.

Mari kita bandingkan cara mereka menuliskan satu huruf saja. Misalkan Budi ingin menyimpan huruf "A".

  • Di dalam Gadget Budi: Komputer butuh 8 ruang (bit) untuk membentuk satu huruf "A", yaitu: 01000001.
  • Di dalam Untaian DNA: Karena DNA memiliki 4 jenis huruf, satu huruf DNA bisa mewakili dua angka biner. Huruf "A" komputer tadi cukup ditulis dengan 4 molekul DNA saja: C-A-A-C.

Jika Budi menuliskan sebuah kata pendek berisi 10 abjad, komputer harus menyusun 80 digit biner, sedangkan DNA hanya butuh 40 molekul. Secara logika bahasa, DNA dua kali lebih ringkas daripada teknologi digital tercanggih kita saat ini.

Pertarungan Ukuran: Rak Raksasa vs Butiran Debu

Bukan hanya menang di cara "menulis", DNA juga menang telak dalam hal ukuran fisik. Teknologi penyimpanan manusia (SSD atau Chip) mengandalkan materi silikon yang meski kecil, tetap membutuhkan "rumah" berupa plastik, kabel tembaga, dan isolator.

Sebaliknya, DNA tidak butuh kabel. Satu unit penyimpanan terkecilnya adalah satu molekul tunggal yang lebarnya hanya 2,5 nanometer. Sebagai gambaran: Jika sebuah chip Micro SD yang sangat kecil itu kita ibaratkan seukuran Stadion Bola, maka untaian DNA dengan kapasitas simpan yang sama hanya akan berukuran sebesar satu butir pasir di tengah lapangan tersebut.

Imajinasi Tanpa Batas: Data Global dalam Satu Tubuh

Keunggulan utama DNA terletak pada kepadatannya yang tidak masuk akal. Jika kita mengganti semua hard drive di pusat data dunia dengan DNA, seluruh data di internet saat ini bisa masuk ke dalam volume yang tidak lebih besar dari dua butir gula.

Jika kita berandai-andai menggunakan tubuh manusia sebagai media simpan, kapasitasnya akan membuat kita tercengang. Karena setiap sel manusia menyimpan sekitar 1,5 GB data, maka total kapasitas satu orang manusia dewasa mampu menampung sekitar 60 Zettabyte. Secara teori, hanya butuh 3 atau 4 orang seperti Budi untuk menyimpan seluruh data digital yang pernah diciptakan manusia di muka bumi ini (Google, YouTube, hingga rahasia negara).

Masa Depan yang Abadi namun Penuh Tantangan

Selain kapasitasnya, DNA memiliki keunggulan ketahanan. Hard drive bisa rusak dalam 10 tahun atau kehilangan daya magnetnya, namun DNA yang disimpan dengan benar bisa bertahan hingga ribuan tahun tanpa kehilangan satu karakter pun. Ia adalah media pengarsipan abadi.

Namun, untuk saat ini, Budi belum bisa mengganti Flashdisk-nya dengan tabung DNA. Penyimpanan DNA sintetis masih menghadapi tantangan besar:

  • Biaya: Proses pembuatan DNA buatan (sintesis) masih sangat mahal.
  • Kecepatan: Proses "mengetik" dan "membaca" data ke DNA masih membutuhkan reaksi kimia laboratorium yang memakan waktu lama, tidak sekejap mata seperti mengeklik file di komputer.

Meskipun masih dalam tahap pengembangan, masa depan di mana data digital menyatu dengan biologi sudah di depan mata. Suatu hari nanti, sejarah peradaban kita mungkin tidak lagi tertulis di atas piringan besi yang rapuh, melainkan di dalam untaian molekul yang juga membentuk denyut nadi kita sendiri.

6 Feb 2024

3 Contoh Keberadaan Unsur Nggak Nyambung di Dunia Tekno

Sesuatu yang nggak nyambung kalau dalam pembicaraan sering kali bikin kita gemes. Apa lagi kalau pas yang dibahas urusan yang serius. Kita udah terlanjur mikir keterkaitan antara sejumlah faktor dan minta tanggapan dari lawan ngomong, ternyata pihak sana membahas urusan yang nggak ada kaitannya. Jadinya harus menjelasin lagi.

Tapi kalau dalam konteks humor, tentu beda lagi. Sesuatu yang nggak nyambung justru bisa jadi sumber kelucuan. Namun ada juga sesuatu yang serius tapi di dalamnya mengandung sesuatu yang nggak nyambung. Dan itu malah jadi pembeda yang unik, serta memunculkan kesan, "Ternyata cuma sesederhana itu."

Topi Merah Warisan

Dalam dunia sistem operasi Linux, ada sebuah distro (alias versi) "berbayar" yang unik. Distro ini bernama Red Hat. Distro ini sebenarnya gratisan, tapi perusahaan yang bikin masih dapat keuntungan komersial. Pendapatannya bukan dari jualan lisensi sistem operasi, tapi jualan jasa bantuan dan pelayanan terkait sistem operasi ini.

Kenapa namanya harus "Red Hat"? Bukankah ini nggak nyambung dengan dunia teknologi informasi? Lalu, apakah biar kelihatan berani?

Bukan. Jawabannya sangat sederhana. Marc Ewing, sang pendiri, punya topi baseball merah pemberian kakeknya yang dia pakai terus-terusan waktu kuliah. Di lab komputer, kalau ada yang bingung, orang-orang bakal bilang, "Cari aja cowok yang pakai topi merah, dia jago!"

Akhirnya, topi merah itu jadi simbol "bantuan teknis". Sayangnya, topi itu sempat hilang, dan Marc saking sedihnya sampai menulis pesan di manual software-nya agar siapa pun yang nemuin tolong balikin. Nama "Red Hat" pun abadi sebagai bentuk rasa sayang dia ke topi pemberian kakeknya itu.

Apakah Software Ini Dibikin Orang Jawa?

Setidaknya, itulah yang terlintas di pikiran saya waktu kali pertama tahu kalau ada bahasa pemrograman yang bernama Java. Siapakah nama orang yang bikin bahasa pemrograman ini? Subroto? Paijo? Atau Sarinah? Kok, logonya sebuah cangkir berasap?

Ternyata penamaan ini lagi-lagi melibatkan sebuah ketidaknyambungan. Awalnya, tim James Gosling mau kasih nama "Oak" (Pohon Ek) karena ada pohon besar di luar jendela kantornya. Tapi apa daya, nama itu sudah ada yang punya. Sambil pusing nyari nama pengganti, mereka nongkrong sambil minum kopi.

Gara-gara kopi yang mereka minum itu jenisnya Kopi Jawa (Java Coffee), ya sudah, mereka sepakat kasih nama Java saja. Nggak nyambung sama fungsinya? Memang. Tapi terbukti sukses besar sampai sekarang!

Kenapa Kerucut Lalin Berwarna Oranye Bisa Jadi Logo Video Player?

Mungkin ini yang paling nggak nyambung. VLC pemutar media, tapi logonya kerucut oranye yang biasa kita lihat di jalanan yang lagi diperbaiki.

Ceritanya lucu: Para pembuat VLC dulunya adalah sekumpulan mahasiswa di Prancis yang punya hobi aneh—mereka suka "mengoleksi" traffic cone asli dari jalanan kalau lagi pulang dari nongkrong malam-alam. Soalnya sering kali mereka pulang dalam kondisi mabuk. Jadinya lab komputer mereka jadi penuh sama kerucut lalu lintas itu.

Pas butuh ikon buat aplikasi buatan mereka, mereka cuma menoleh ke pojok ruangan, melihat tumpukan kerucut itu, dan bilang: "Itu aja jadiin logo!" Sisanya adalah sejarah.

Walau ada unsur nggak serius di sini, aplikasi ini sampai saat ini gratisan dan punya sesuatu yang istimewa. Dulu, waktu streaming video belum sekencang sekarang, orang-orang biasa mendownload video terlebih dulu sebelum ditonton. Dalam prosesnya, sering kali filenya rusak atau gambarnya nggak dikenali oleh aplikasi pemutar video di PC. Tentunya video ini nggak akan bisa ditonton.

Tapi kalau pakai aplikasi ini, semuanya bisa ditonton, apa pun kondisi filenya. VLC akan melewati bagian yang rusak dan menampilkan yang bisa ditampilkan.

Apa Pelajarannya?

Kadang kita terlalu stres mencari sesuatu yang "sempurna" atau "nyambung banget" dalam memulai sebuah karya. Padahal, tiga raksasa di atas membuktikan kalau sesuatu yang lahir dari hal-hal sederhana—bahkan dari benda yang ada di depan mata—bisa mendunia selama isinya berkualitas.

Jadi, jangan biarkan urusan "nama" atau "logo" bikin langkah kita berhenti. Mulai aja dulu, biarkan kualitas yang bicara, dan biarkan sejarah mencatat ceritanya sendiri.

5 Des 2023

Membalas dengan Kebaikan: Antara Keagungan Akhlak dan Ketegasan Hukum

Ilustrasi tipografi QS. Fussilat ayat 34

Dalam khazanah etika Islam, QS. Fussilat ayat 34 sering kali dikutip sebagai pilar perdamaian: "Dan balaslah kejahatan itu dengan yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan menjadi seperti teman yang setia."

Secara historis, ayat ini turun di periode Mekah—masa di mana umat Islam berada dalam posisi minoritas yang tertindas. Secara logis (common sense), perintah ini merupakan strategi dakwah yang cerdas agar gerakan Islam tidak hancur digilas konfrontasi di saat posisinya belum kuat. Namun, jika kita membedahnya lebih dalam, ayat ini bukan sekadar taktik bertahan hidup, melainkan sebuah transformasi psikologis yang dalam.


1. Tiga Dimensi Kekuatan di Balik Kebaikan

Perintah untuk "membalas dengan yang lebih baik" bukanlah sekadar nasihat moral yang dangkal. Jika kita bedah, tindakan ini memiliki tiga lapisan kekuatan yang bekerja secara simultan untuk mengubah keadaan:

  • Dimensi Psikologis (Menghancurkan Rantai Kebencian): Kebencian memerlukan "bahan bakar" berupa balasan yang setimpal agar bisa terus berkobar. Ketika seseorang membalas kejahatan dengan kebaikan, ia sedang memberikan respons yang tidak terduga. Hal ini menciptakan kejutan batin bagi lawan, memadamkan api amarah mereka.
  • Dimensi Teologis (Ujian Kemurnian Niat): Berbuat baik kepada orang yang mencintai kita adalah hal biasa. Namun, berbuat baik kepada orang yang menjahati kita adalah ujian tertinggi bagi integritas diri. Di sinilah letak pemurnian niat; apakah seseorang berbuat baik karena mengharap apresiasi manusia, atau murni karena ketulusan di hadapan Tuhan.
  • Dimensi Sosial (Transformasi Hubungan): Kebaikan yang konsisten memiliki kekuatan untuk meruntuhkan tembok permusuhan. Secara sosiologis, tindakan ini adalah investasi jangka panjang untuk mengubah lawan menjadi kawan.

2. Batas Tegas: Ruang Privat vs Ruang Publik

Salah satu poin paling krusial dalam memahami ayat ini adalah ketepatan penempatannya. Para ulama dan pemikir hukum menekankan perbedaan tajam antara:

  • Urusan Pribadi: Hinaan, sentimen hati, dan perselisihan antarindividu. Di sinilah ayat ini bersinar sebagai "obat" paling mujarab. Memaafkan di sini adalah kemuliaan.
  • Urusan Publik: Manipulasi anggaran, penyalahgunaan jabatan, dan pelanggaran kode etik. Dalam ranah ini, memaafkan secara serampangan justru merupakan bentuk kezaliman terhadap masyarakat luas.

3. Bahaya Manipulasi Etika

Sering kali, kelompok kepentingan menggunakan dalih "memaafkan itu lebih baik" untuk menutupi kejahatan sistemik. Ini adalah bentuk manipulasi narasi agama. Ketika pemaafan dipaksakan untuk menutupi kerugian publik, yang terjadi bukanlah perdamaian, melainkan budaya impunitas (kebal hukum).

Memaafkan koruptor atau pelanggar mandat publik atas nama "kekeluargaan" adalah cacat logika dan moral. Mengapa? Karena hak yang dirugikan bukan milik pribadi sang pemimpin, melainkan milik jutaan rakyat. Secara sosiologis, pemaafan yang salah sasaran ini akan meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap keadilan.

4. Keadilan Sebagai Bentuk "Kebaikan" yang Tertinggi

Menegakkan hukum secara setimpal bagi pelanggar aturan publik sebenarnya adalah bentuk menjalankan "yang lebih baik" bagi sistem sosial. Keadilan memberikan efek jera, menjaga integritas lembaga, dan melindungi hak-hak orang banyak. Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa hukum tidak pandang bulu, bahkan jika pelanggarnya adalah keluarga beliau sendiri.


Kesimpulan

QS. Fussilat ayat 34 adalah pedoman untuk memanusiakan manusia dalam hubungan personal. Namun, ia tidak boleh dijadikan tameng untuk melindungi kejahatan yang merusak tatanan publik. Keagungan spiritual seseorang diukur dari kemampuannya memaafkan kesalahan pribadi, namun integritas seorang warga negara diukur dari ketegasannya menuntut keadilan bagi kepentingan publik.

21 Sep 2023

Hasrat dalam Keheningan: Mengenal Blind Football dan Semangat Sejati Olahraga

Video: BBC News Indonesia - Perjuangan membangun timnas tunanetra Indonesia.

Sepak bola sebagai olahraga paling populer di muka bumi adalah sebuah kenyataan yang sulit dibantah. Dalam berbagai kesempatan, olahraga ini mendatangkan keramaian dan suasana gegap gempita para suporter. Selain itu, intensitas di dalam dan di luar lapangan sering kali sangat tinggi. Walaupun semangat olahraga yang sebenarnya adalah menjalin persahabatan, terkadang intensitas persaingan yang berlebihan mengalahkan semangat tersebut, yang pada akhirnya memicu konflik-konflik yang tidak perlu.

Namun, ada sebuah olahraga turunan dari sepak bola yang memiliki atmosfer berbeda dengan induknya: Blind Football. Olahraga ini dikhususkan untuk para tunanetra, meskipun mereka yang berpenglihatan awas juga bisa terlibat sebagai kiper atau pemandu.

Lapangan Blind Football mirip dengan futsal, hanya saja di sekeliling lapangan dilengkapi papan pantul (kickboards) setinggi satu meter untuk menjaga bola tetap dalam permainan dan membantu navigasi suara. Area gerak kiper pun sangat terbatas, yakni hanya boleh bergerak dua meter ke depan dan lima meter di sepanjang garis gawang. Bolanya pun dirancang khusus agar mengeluarkan bunyi gemerincing saat bergulir.

Olahraga ini dimainkan oleh empat orang pemain tunanetra dan seorang kiper awas. Selama permainan, pemain wajib berteriak "Voy!" (bahasa Spanyol untuk "Aku datang") saat mendekati atau mengejar bola guna membantu navigasi sekaligus mencegah tabrakan antarpemain. Di lapangan, terjadi "estafet suara": kiper memberi komando saat bertahan di zona 13 meter belakang, pelatih mengarahkan di zona tengah, dan seorang pemandu gawang (goal guide) berdiri di belakang gawang lawan untuk mengetuk tiang gawang serta memberi petunjuk suara bagi penyerang. Uniknya, penonton harus membisu total selama bola bergerak dan hanya boleh bersorak setelah terjadi gol.

Permainan ini berlangsung selama 15 menit waktu bersih di tiap babaknya. Untuk mengatur jalannya laga, terdapat empat orang wasit yang memiliki tugas unik dibandingkan wasit konvensional; mereka tidak hanya mengawasi pelanggaran fisik, tetapi juga mengadili dan mengatur kemunculan suara, mulai dari teriakan pemain, instruksi pelatih, hingga memastikan keheningan di tribun penonton.

Sejarah olahraga ini bermula dari Brasil pada tahun 1960-an. Awalnya, para siswa di sekolah tunanetra membungkus bola dengan plastik agar terdengar bunyinya. Olahraga ini berkembang pesat hingga kejuaraan nasional pertama diadakan pada tahun 1980. Dunia mulai mengakuinya secara resmi saat federasi IBSA menetapkan standar internasional pada 1996, hingga akhirnya melakukan debut bersejarah di Paralimpiade Athena 2004. Sejak itu, ajang ini memiliki "Piala Dunia"-nya sendiri (IBSA World Championship) yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi lahirnya teknik tingkat tinggi.

Jika di pertandingan sepak bola konvensional sering dijumpai rivalitas yang mengarah pada konflik, di ajang para-sport justru semangat kebersamaan yang lebih menonjol. Berbagai tinjauan ilmiah sosiologi olahraga menyebutkan bahwa di ajang disabilitas, fokus bergeser dari sekadar hasil akhir ke penghargaan atas proses. Para atlet berbagi pengalaman hidup yang serupa dalam menghadapi tantangan, sehingga muncul rasa hormat yang mendalam kepada lawan. Di sini, olahraga bukan sekadar kompetisi fisik, melainkan alat transformasi sosial untuk mengikis stigma dan menunjukkan martabat manusia melalui keteguhan hati.

Melalui tulisan singkat ini, setidaknya tersaji setitik pengetahuan bagi mereka yang belum mengenal Blind Football. Ternyata, di satu sudut dunia olahraga yang saat ini penuh dengan rivalitas tajam, masih ada semangat kebersamaan dan persahabatan murni yang dikedepankan oleh para penggiatnya.

19 Jun 2023

Eksplorasi "Ngeyel" dalam Penelusuran Logika Seribu Kota dalam Lagu Sewu Kutho

Lagu Sewu Kutho ciptaan mendiang Mas Didi Kempot awal kali muncul di era awal 2000. Namun dalam jangka waktu dekade kemudian, lagu ini masih saja sering terdengar. Banyak penyanyi yang membawakan ulang lagu ini dengan versinya masing-masing. Sebuah lagu yang menceritakan pencarian cinta yang sangat ngeyel.

Coba bayangkan, seribu kota dijelajahi demi menelusuri jejak sang idaman hati. Berapa ongkos yang harus dikeluarkan? Emosi seperti apa yang dialami selama perjalanan itu? Jika berandai-andai seperti apa perjalanan itu? Ayo kita iseng menelusurinya perlahan-lahan hingga menggenapi penelusuran hingga mencapai 1000 kota.

Jika kita mulai membedah peta, perjalanan ini ternyata jauh lebih gila daripada kedengarannya. Dimulai dari Indonesia, sang pengembara harus menyisir 514 kabupaten dan kota dari Sabang sampai Merauke. Namun, setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun menyeberangi pulau-pulau di tanah air, petualangan ini nyatanya baru mencapai separuh jalan. Target "seribu kota" masih jauh di cakrawala.

Sang tokoh harus mulai melintasi batas negara. Bayangkan ia harus menembus hutan di Timor Leste, menyisir distrik-distrik di Brunei, hingga menjelajahi 160 daerah di Malaysia Barat dan Timur. Bahkan setelah menginjakkan kaki di Singapura dan mendaki pegunungan di 96 distrik Papua Nugini, ia baru mengumpulkan 789 wilayah. Rasa lelah dan rindu yang menyayat hati itu harus ia bawa hingga ke Filipina, menyisir 149 kota di sana agar angka 938 kota bisa tercapai. Masih kurang 62 kota lagi! Ia harus menyeberang ke Thailand atau Vietnam hanya untuk menggenapi janji dalam liriknya.

Sekarang, mari kita bicara soal logika waktu. Jika kita berasumsi sang pengembara ini sangat disiplin dan hanya menetap satu hari untuk satu kota, maka untuk menuntaskan daftar 1.000 kota tersebut, ia membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun 9 bulan. Itu pun dengan catatan tidak ada hari libur, tidak ada kendala cuaca, dan tidak ada drama birokrasi di perbatasan negara.

Bayangkan emosi yang terkuras selama hampir tiga tahun hidup di jalanan. Setiap pagi ia bangun di kota yang berbeda, mendengar dialek yang asing, namun tetap dengan tujuan yang sama: mencari jejak yang belum tentu ada. Ongkos yang dikeluarkan tentu tak ternilai, bukan hanya soal materi, tapi soal sisa-sisa harapan yang kian menipis setiap kali ia meninggalkan kota ke-100, ke-500, hingga ke-999. Lagu ini bukan sekadar tentang cinta yang hilang, tapi tentang sebuah obsesi yang melampaui batas geografis Asia Tenggara.

Namun, pencarian ini akan menjadi jauh lebih dramatis jika kita menghitung jalur yang ditempuh melalui laut. Mengingat sebagian besar kota yang dilewati berada di negara kepulauan, sang pengembara tidak mungkin hanya mengandalkan jalur darat. Bayangkan ia harus menunggu jadwal kapal fery atau pelayaran rakyat dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Jika kita mengasumsikan setiap perpindahan antar pulau membutuhkan waktu rata-rata dua hingga tiga hari perjalanan laut—termasuk waktu tunggu di dermaga—maka durasi pencarian bisa membengkak menjadi 5 hingga 6 tahun. Di sinilah letak ironi terdalamnya: selama bertahun-tahun ia hanya ditemani deru mesin kapal dan aroma garam laut, sementara sosok yang dicari mungkin sudah menetap di sebuah kota yang justru sudah lama ia tinggalkan.

Di tahun segitu, anggap saja sang tokoh berkendara dengan motor. Motor yang ia pakai adalah Honda Astrea Grand keluaran tahun '97. Seberapa jauh angka pengukur kilometer di dashboard motor itu? Berapa kali pengukur jarak itu berputar menuju nol kembali? Rantai yang aus, ban yang berkali-kali diganti, dan mesin yang tetap menderu meski sudah melintasi ribuan kilometer panas dan hujan, menjadi saksi bisu betapa keras kepalanya sebuah rasa rindu.

Lalu kenapa pakai motor Astrea Grand? Nggak ada alasan yang terlalu istimewa juga kenapa pakai motor ini, hanya karena aku memiliki motor ini dan aku terkesan dengan mesin dan sasisnya yang bandel. Pada akhirnya, Sewu Kutho bukan hanya soal geografi, tapi soal seberapa jauh seseorang bersedia melangkah sebelum akhirnya belajar untuk melepaskan.