Tampilkan postingan dengan label Olahraga (Sport). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga (Sport). Tampilkan semua postingan

2 Feb 2025

Atletisme Vokal dalam PON

Ilustrasi kompetisi menyanyi sebagai cabang olahraga PON dengan juri dan indikator performa digital
Ilustrasi: Visi menyanyi sebagai salah satu cabang olahraga kompetitif di PON.

Acara olahraga multi-event di tingkat nasional di negeri ini bertajuk Pekan Olahraga Nasional alias PON. Ini semacam festival yang menampilkan berbagai macam kompetisi olahraga. Selayaknya festival pada umumnya, PON menyajikan beragam kegiatan yang dari masa ke masa jenisnya kian beragam seiring perkembangan aktivitas olahraga di masyarakat.

Perkembangan yang dimaksud di sini mencakup sisi organik maupun struktural. Agar bisa masuk ke ajang PON, sebuah aktivitas harus memiliki federasi yang diakui oleh KONI serta memiliki kepengurusan minimal di 60% provinsi di Indonesia. Selain itu, diperlukan standarisasi penjurian yang seragam di seluruh daerah untuk meminimalkan subjektivitas.

Terlepas dari itu semua, di level PON sempat muncul beberapa cabang olahraga yang memicu perdebatan: apakah suatu aktivitas yang dikompetisikan tersebut tergolong olahraga fisik, atau sekadar adu ketangkasan dan hobi?

Bridge: Olahraga Otak yang Penuh Dinamika

Pertandingan Bridge (kartu) adalah salah satu yang paling sering diperdebatkan. Di mata orang awam, Bridge hanyalah permainan kartu. Namun, di PON, Bridge adalah cabang resmi yang memperebutkan banyak medali emas. Sisi "olahraga" Bridge adalah ketahanan mental, memori, dan strategi tingkat tinggi. Atlet Bridge harus duduk berjam-jam dengan konsentrasi penuh. Jika konsentrasi pecah sedikit saja karena kelelahan saraf, mereka kalah. Secara administratif, Bridge bernaung di bawah GABSI (Gabungan Bridge Seluruh Indonesia) yang merupakan anggota resmi KONI.

Perjalanan Bridge di ajang PON menyerupai dinamika pasang-surut yang penuh perjuangan pengakuan. Setelah pertama kali memulai debut resminya pada PON VI tahun 1966 di Jakarta, cabang olahraga otak ini sempat menjadi agenda rutin yang membuktikan bahwa ketangkasan strategi dan memori layak bersanding dengan kekuatan fisik. Namun, posisinya tidak selalu aman; Bridge pernah mengalami "pencoretan" pahit pada PON XX Papua 2021 akibat kebijakan perampingan kuota atlet dan prioritas logistik tuan rumah. Meski sempat absen, kegigihan organisasinya membuahkan hasil dengan kembalinya Bridge sebagai cabang resmi pada PON XXI Aceh-Sumut 2024, menegaskan kembali eksistensinya dalam ekosistem olahraga nasional.

Dansa, Panahan, dan Menembak

Lalu ada Dansa (dancesport) yang dalam PON tidak disebut "menari", melainkan Olahraga Dansa. Cabang ini pertama kali resmi dipertandingkan pada PON XIX Jawa Barat 2016, setelah sebelumnya sempat melalui proses panjang sebagai cabang eksibisi. Sering kali orang menganggap ini hanya hiburan atau seni pertunjukan. Namun, jika kita melihatnya secara teknis, atlet dansa membutuhkan kekuatan otot kaki, keseimbangan, dan kelenturan yang setara dengan pesenam lantai. Denyut jantung mereka saat melakukan gerakan Latin yang cepat bisa menembus batas zona latihan kardio yang intens.

Memanah dan menembak sebetulnya bisa dipertanyakan aspek olahraganya. Aktivitas ini tampak hanya berdiam diri di satu posisi, membidik sasaran, lalu melepas tembakan. Pada panahan, mungkin masih ada aspek menarik anak panah pada busur yang membutuhkan kekuatan fisik signifikan. Namun, menembak terasa jauh lebih sederhana dibandingkan memanah dalam hal kekuatan fisik, walaupun aktivitas ini tetap membutuhkan kekuatan tangan untuk menahan guncangan saat peluru meletus.

Konteksnya mungkin akan berbeda jika ada perlombaan menembak menggunakan airsoft gun secara tim—sebuah aktivitas yang melibatkan penyusunan strategi serta pergerakan fisik aktif, seperti bersembunyi dan menyergap lawan di dalam arena. Walaupun aspek fisiknya sering dipertanyakan, memanah termasuk kompetisi yang sudah ada sejak era awal multi-event sekelas Olimpiade. Seiring berjalannya waktu, posisi memanah sebagai cabang olahraga pun semakin matang dan diakui secara global.

Era Digital: Esports dan Tradisi Barongsai

Satu jenis "olahraga" yang mungkin sering dipertanyakan oleh generasi era analog adalah Esports. Selain sebagian besar mereka tidak pernah mengalaminya, mereka juga kesulitan memahami letak "sport" di aktivitas ini. Pada PON XX Papua (sebagai eksibisi) dan PON XXI Aceh-Sumut (sebagai cabang resmi), Esports sudah masuk dalam jajaran kompetisi. Sisi olahraga kompetisi ini adalah adu refleks, kecepatan jari (Actions Per Minute), dan koordinasi mata-tangan. Ini adalah olahraga saraf dan otak, di mana keputusan harus diambil dalam hitungan milidetik.

Kemudian ada Barongsai yang sejak PON XIX Jawa Barat melalui Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) sudah masuk menjadi anggota KONI. Aktivitas ini lebih mudah dipahami sebagai aktivitas fisik karena memadukan aspek akrobatik yang kental.

Visi Masa Depan: Menyanyi sebagai Cabang Olahraga

Setelah membahas aktivitas unik di atas, ada sebuah aktivitas yang umum dilakukan banyak orang, sudah sering dikompetisikan, dan menuntut fisik yang prima, tetapi belum dimasukkan sebagai olahraga. Bahkan jika dibandingkan Esports, aktivitas ini melibatkan lebih banyak otot besar. Aktivitas ini adalah menyanyi. Lebih dari sekadar fisik, di sini ada aspek estetika yang sangat kompleks.

Mari kita lihat aspek aktivitas yang dilakukan penyanyi sebelum tampil. Mereka melakukan pemanasan vokal selayaknya atlet bola sebelum bertanding. Penyanyi tidak hanya memanaskan pita suara, tetapi mengondisikan seluruh "sistem mesin" suara agar tidak cedera saat dipaksa bekerja keras di atas panggung.

Pemanasan meningkatkan aliran darah ke otot laring. Otot-otot kecil di sekitar jakun (seperti otot cricothyroid dan vocalis) perlu dipanaskan agar fleksibel dan responsif saat menarik pita suara untuk mencapai nada tinggi atau rendah. Tanpa pemanasan, otot yang kaku bisa mengalami kram atau tarikan yang menyebabkan suara "pecah". Pemanasan ringan juga merangsang produksi cairan pelindung pada selaput lendir pita suara yang berfungsi seperti oli mesin, mengurangi panas saat pita suara beradu ratusan kali per detik.

Selain itu, pemanasan membangunkan diafragma dan otot perut agar pasokan angin dari paru-paru stabil. Latihan vokal juga melemaskan rahang, lidah, dan langit-langit mulut agar ruang resonansi terbuka, sehingga suara bisa memantul dengan kaya tanpa tenaga yang dipaksakan.

Menyimak aspek di atas sudah cukup menggambarkan bahwa menyanyi adalah aktivitas fisik yang signifikan. Seperti atlet, penyanyi juga dituntut disiplin dalam menjaga kebugaran dan pola makan. Menilik fakta-fakta ini, wajar jika menyanyi mulai dipertimbangkan masuk dalam kompetisi PON. Komunitas vokal di Indonesia dapat membentuk federasi "Atlet Vokal" untuk menyusun regulasi penilaian berbasis data seperti frekuensi, desibel, dan durasi napas.

Mungkin di masa depan, olahraga menyanyi akan mempertandingkan ketepatan pitch, volume, rentang nada, hingga ketahanan napas. Akan ada rekor-rekor yang dipecahkan dan federasi yang menaunginya hingga tingkat global.

21 Sep 2023

Hasrat dalam Keheningan: Mengenal Blind Football dan Semangat Sejati Olahraga

Video: BBC News Indonesia - Perjuangan membangun timnas tunanetra Indonesia.

Sepak bola sebagai olahraga paling populer di muka bumi adalah sebuah kenyataan yang sulit dibantah. Dalam berbagai kesempatan, olahraga ini mendatangkan keramaian dan suasana gegap gempita para suporter. Selain itu, intensitas di dalam dan di luar lapangan sering kali sangat tinggi. Walaupun semangat olahraga yang sebenarnya adalah menjalin persahabatan, terkadang intensitas persaingan yang berlebihan mengalahkan semangat tersebut, yang pada akhirnya memicu konflik-konflik yang tidak perlu.

Namun, ada sebuah olahraga turunan dari sepak bola yang memiliki atmosfer berbeda dengan induknya: Blind Football. Olahraga ini dikhususkan untuk para tunanetra, meskipun mereka yang berpenglihatan awas juga bisa terlibat sebagai kiper atau pemandu.

Lapangan Blind Football mirip dengan futsal, hanya saja di sekeliling lapangan dilengkapi papan pantul (kickboards) setinggi satu meter untuk menjaga bola tetap dalam permainan dan membantu navigasi suara. Area gerak kiper pun sangat terbatas, yakni hanya boleh bergerak dua meter ke depan dan lima meter di sepanjang garis gawang. Bolanya pun dirancang khusus agar mengeluarkan bunyi gemerincing saat bergulir.

Olahraga ini dimainkan oleh empat orang pemain tunanetra dan seorang kiper awas. Selama permainan, pemain wajib berteriak "Voy!" (bahasa Spanyol untuk "Aku datang") saat mendekati atau mengejar bola guna membantu navigasi sekaligus mencegah tabrakan antarpemain. Di lapangan, terjadi "estafet suara": kiper memberi komando saat bertahan di zona 13 meter belakang, pelatih mengarahkan di zona tengah, dan seorang pemandu gawang (goal guide) berdiri di belakang gawang lawan untuk mengetuk tiang gawang serta memberi petunjuk suara bagi penyerang. Uniknya, penonton harus membisu total selama bola bergerak dan hanya boleh bersorak setelah terjadi gol.

Permainan ini berlangsung selama 15 menit waktu bersih di tiap babaknya. Untuk mengatur jalannya laga, terdapat empat orang wasit yang memiliki tugas unik dibandingkan wasit konvensional; mereka tidak hanya mengawasi pelanggaran fisik, tetapi juga mengadili dan mengatur kemunculan suara, mulai dari teriakan pemain, instruksi pelatih, hingga memastikan keheningan di tribun penonton.

Sejarah olahraga ini bermula dari Brasil pada tahun 1960-an. Awalnya, para siswa di sekolah tunanetra membungkus bola dengan plastik agar terdengar bunyinya. Olahraga ini berkembang pesat hingga kejuaraan nasional pertama diadakan pada tahun 1980. Dunia mulai mengakuinya secara resmi saat federasi IBSA menetapkan standar internasional pada 1996, hingga akhirnya melakukan debut bersejarah di Paralimpiade Athena 2004. Sejak itu, ajang ini memiliki "Piala Dunia"-nya sendiri (IBSA World Championship) yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi lahirnya teknik tingkat tinggi.

Jika di pertandingan sepak bola konvensional sering dijumpai rivalitas yang mengarah pada konflik, di ajang para-sport justru semangat kebersamaan yang lebih menonjol. Berbagai tinjauan ilmiah sosiologi olahraga menyebutkan bahwa di ajang disabilitas, fokus bergeser dari sekadar hasil akhir ke penghargaan atas proses. Para atlet berbagi pengalaman hidup yang serupa dalam menghadapi tantangan, sehingga muncul rasa hormat yang mendalam kepada lawan. Di sini, olahraga bukan sekadar kompetisi fisik, melainkan alat transformasi sosial untuk mengikis stigma dan menunjukkan martabat manusia melalui keteguhan hati.

Melalui tulisan singkat ini, setidaknya tersaji setitik pengetahuan bagi mereka yang belum mengenal Blind Football. Ternyata, di satu sudut dunia olahraga yang saat ini penuh dengan rivalitas tajam, masih ada semangat kebersamaan dan persahabatan murni yang dikedepankan oleh para penggiatnya.