Dulu saat masih kanak-kanak, waktu bermain rame-rame bersama teman atau para sepupu sering menghadapi situasi harus melakukan pengundian. Pada tahap awal, semua peserta melingkar dan melakukan hom-pim-pah sebagai proses penyaringan.
Metode yang kami lakukan salah satunya memakai telapak tangan. Misalnya, yang telapak tangannya menghadap atas akan dikeluarkan dari lingkaran. Sedangkan metode lainnya menggunakan lengan. Kalau dengan cara ini, yang lengannya dijulurkan (misalnya) harus keluar dari lingkaran dan yang lengannya ditarik tetap tinggal.
Setelah peserta tersisa dua anak, maka kami melakukan suit. Dahulu di lingkunganku, yang sering dipakai adalah suit jari, suit yang membandingkan jempol, telunjuk, dan kelingking. Jari yang mewakili gajah, manusia, dan semut. Dan akhirnya setelah berbagai penyaringan, tersisa satu orang terpilih.
Suit semacam ini sangat sering aku lakukan hingga terbiasa. Tapi ternyata kemudian aku mendapati ada versi lain, yaitu suit kertas-gunting-batu. Karena tidak terbiasa, aku jarang pakai suit macam ini. Kalau terpaksa, loading di kepalaku agak lemot saat aku memainkan suit ini.
Kalau dipikir-pikir, filosofi di balik suit gajah-manusia-semut ini sangat luar biasa dalam. Permainan tradisional anak-anak yang terlihat sederhana ini menyimpan sindiran satir sekaligus kearifan kuno tentang bagaimana kehidupan dan ekosistem di dunia ini bekerja.
Hubungan segitiga antara Jempol (Gajah), Telunjuk (Manusia), dan Kelingking (Semut) mewakili sebuah roda kehidupan. Bersama ketikan iseng ini, aku ingin mencoba membedah lapisan filosofis dari hubungan unik di dalamnya.
Paradoks Gajah dan Semut
Aturan bahwa "Gajah kalah oleh Semut" adalah bagian paradoks yang paling menarik. Secara logika fisik, gajah bisa menginjak jutaan semut tanpa berkedip. Namun, mengapa semut yang menang?
Jika menilik persoalan ini dari sisi biologi, tentang anatomi, gajah adalah binatang yang amat besar, matanya kecil, telinganya lebar. (Ah, jadi teringat deklamasi pengenalan hewan semasa kecil dulu.) Walau bertubuh besar, tetapi mereka memiliki titik-titik lemah yang sangat sensitif, seperti bagian dalam belalai yang penuh saraf atau lipatan kulit di balik telinga. Jika semut-semut masuk ke dalam belalai gajah dan mulai menggigit, gajah yang perkasa tidak memiliki jari-jemari kecil untuk mengoreknya keluar. Kekuatan gajah yang amat besar menjadi tidak berguna menghadapi musuh yang terlalu mikro.
Ini adalah pengingat bahwa tidak ada kekuatan yang absolut di dunia ini. Sehebat, sekuat, atau seraksasa apa pun posisi seseorang atau sebuah lembaga, mereka selalu memiliki titik lemah yang bisa diruntuhkan oleh hal-hal paling kecil yang sering mereka sepelekan.
Siklus Roda Kekuasaan yang Adil
Jika kita melihat rantai kemenangan suit ini, polanya membentuk lingkaran tanpa ujung. Ini merupakan roda kekuasaan yang adil yang meniadakan predator puncak. Gajah (Jempol) menginjak Manusia (Telunjuk). Manusia (Telunjuk) menginjak Semut (Kelingking). Sedangkan semut (Kelingking) melumpuhkan Gajah (Jempol).
Di dunia nyata, manusia sering merasa berada di puncak rantai makanan karena memiliki akal budi untuk menjinakkan gajah. Namun, manusia dengan mudahnya bisa melindas semut di lantai tanpa sadar. Hebatnya, semut yang dianggap remeh oleh manusia justru menjadi satu-satunya makhluk yang ditakuti oleh sang gajah.
Filosofi dari lingkaran ini adalah pengajaran agar tidak sombong. Permainan ini mengajarkan anak-anak sejak dini bahwa di atas langit selalu ada langit. Seseorang yang merasa berkuasa atas pihak lain, harus sadar bahwa ada pihak ketiga yang jauh lebih kecil yang bisa menjadi batu sandungan bagi dirinya. Lingkaran ini menciptakan keseimbangan mental agar tidak ada satu kasta pun yang merasa berhak bertindak semena-mena selamanya.
Simbolisme Ukuran Jari
Pemilihan jari untuk mewakili ketiga makhluk ini juga menarik. Jari ini mewakili jari terbesar hingga terkecil. Jempol (Gajah) memakai jari terbesar, simbol kekuatan fisik dan dominasi. Telunjuk (Manusia) adalah jari yang paling aktif digunakan untuk memerintah, menunjuk, dan berpikir. Simbol ego, logika, dan otoritas manusia. Sedangkan kelingking (Semut) adalah jari terkecil, paling lemah, dan sering dianggap tidak penting. Simbol kaum jelata atau sesuatu yang mikro di alam.
Ketika kelingking (semut) dimunculkan untuk melawan jempol (gajah), anak-anak diajarkan sebuah visualisasi fisik yang indah. Bahwasanya yang terkecil pun memiliki fungsi dan kekuatan besar yang sanggup mengubah jalannya permainan.
Jika mempelajari lebih jauh tentang bagaimana disiplinnya koloni semut bekerja sama, dari jenis semut yang membangun sarang memanfaatkan rajutan daun, mengelola pemakaman, hingga membagi makanan lewat perut sosial, filosofi suit ini menjadi semakin terbukti di dunia nyata. Semut tidak mengalahkan gajah dengan ukuran tubuhnya, melainkan dengan esensi keberadaan mereka yang gigih, fokus pada titik lemah, dan jumlah mereka yang tak terbendung.
Sebuah permainan jari di teras rumah ternyata adalah refleksi miniatur dari hukum alam yang sangat bijaksana.