6 Jan 2022

Belajar Membikin Rencana

Ada sebuah simulasi menarik bernama permainan "Pelelangan dan Negosiasi". Bayangkan sebuah barang dilelang dengan nilai maksimal 100. Aturannya sederhana: penawaran dimulai dari angka 10 dan naik per kelipatan 5. Tapi ada jebakannya: dua penawar tertinggi harus tetap membayar, meski hanya satu orang yang jadi pemenang. Hasilnya cukup mengejutkan. Di awal, semua orang tenang dan menawar kecil. Begitu angka menyentuh 50, suasana mulai panas. Saat itulah motif peserta berubah drastis. Yang awalnya ingin untung, tiba-tiba jadi "yang penting nggak kalah" atau "nggak mau hilang muka" di depan teman-temannya. Sering kali, harga akhir melonjak jauh di atas 100! Kenapa? Karena mereka tidak punya rencana batas atas sejak awal dan terbawa emosi kompetisi. Di sinilah kita sadar: tanpa rencana, tujuan awal yang rasional bisa berubah jadi keputusan yang emosional dan merugikan. Agar kita nggak terjebak dalam situasi asal jalan seperti peserta lelang tadi, kita butuh kerangka kerja yang solid. Berikut adalah beberapa pendekatan yang bisa kita terapkan: Panduan Bottom-Up (Fokus pada Eksekusi): Strategi ini sangat cocok kalau Anda masih dalam situasi abu-abu tentang cara mencapai tujuan. Fokuslah pada apa yang terjadi di lapangan. Dengan melihat kenyataan di level teknis, tim dipaksa untuk memilah mana yang benar-benar penting untuk dikejar dan mana yang cuma distraksi. Perencanaan Berbasis Risiko: Jangan cuma sedia payung sebelum hujan, tapi bayangkan kalau badai datang. Susun rencana dengan skenario terburuk—seperti anggaran dipotong atau sumber daya berkurang. Jika rencana Anda tetap bisa jalan di kondisi sulit, berarti rencana itu sudah cukup kuat. Perencanaan Skenario: Dunia berubah cepat, begitu juga sebuah proyek, terlepas apa pun itu. Model ini membantu rencana Anda lebih tahan banting terhadap perubahan tak terduga di tengah jalan. Intinya, selalu punya rencana cadangan (Plan B, C, dst). Struktur Rincian Kerja (WBS): Jangan biarkan tugas menumpuk jadi satu gundukan besar yang bikin stres. Pecah setiap proyek menjadi detail-detail kecil. Dengan begitu, setiap anggota tim tahu persis apa yang harus dilakukan tanpa perlu menebak-nebak. Kesimpulannya, kadang kita menganggap perencanaan itu membuang waktu, padahal sebenarnya itu adalah investasi. Melalui permainan sederhana tadi, kita diingatkan bahwa tanpa rencana yang matang, kita sangat mudah disetir oleh tren dan emosi sesaat. Jadi, sebelum memulai langkah besar berikutnya, coba tarik napas sejenak dan susun strategi. Kira-kira, dari empat metode di atas, mana yang paling cocok untuk proyek yang sedang Anda kerjakan saat ini?