Sesuatu yang nggak nyambung kalau dalam pembicaraan sering kali bikin kita gemes. Apa lagi kalau pas yang dibahas urusan yang serius. Kita udah terlanjur mikir keterkaitan antara sejumlah faktor dan minta tanggapan dari lawan ngomong, ternyata pihak sana membahas urusan yang nggak ada kaitannya. Jadinya harus menjelasin lagi.
Tapi kalau dalam konteks humor, tentu beda lagi. Sesuatu yang nggak nyambung justru bisa jadi sumber kelucuan. Namun ada juga sesuatu yang serius tapi di dalamnya mengandung sesuatu yang nggak nyambung. Dan itu malah jadi pembeda yang unik, serta memunculkan kesan, "Ternyata cuma sesederhana itu."
Topi Merah Warisan
Dalam dunia sistem operasi Linux, ada sebuah distro (alias versi) "berbayar" yang unik. Distro ini bernama Red Hat. Distro ini sebenarnya gratisan, tapi perusahaan yang bikin masih dapat keuntungan komersial. Pendapatannya bukan dari jualan lisensi sistem operasi, tapi jualan jasa bantuan dan pelayanan terkait sistem operasi ini.
Kenapa namanya harus "Red Hat"? Bukankah ini nggak nyambung dengan dunia teknologi informasi? Lalu, apakah biar kelihatan berani?
Bukan. Jawabannya sangat sederhana. Marc Ewing, sang pendiri, punya topi baseball merah pemberian kakeknya yang dia pakai terus-terusan waktu kuliah. Di lab komputer, kalau ada yang bingung, orang-orang bakal bilang, "Cari aja cowok yang pakai topi merah, dia jago!"
Akhirnya, topi merah itu jadi simbol "bantuan teknis". Sayangnya, topi itu sempat hilang, dan Marc saking sedihnya sampai menulis pesan di manual software-nya agar siapa pun yang nemuin tolong balikin. Nama "Red Hat" pun abadi sebagai bentuk rasa sayang dia ke topi pemberian kakeknya itu.
Apakah Software Ini Dibikin Orang Jawa?
Setidaknya, itulah yang terlintas di pikiran saya waktu kali pertama tahu kalau ada bahasa pemrograman yang bernama Java. Siapakah nama orang yang bikin bahasa pemrograman ini? Subroto? Paijo? Atau Sarinah? Kok, logonya sebuah cangkir berasap?
Ternyata penamaan ini lagi-lagi melibatkan sebuah ketidaknyambungan. Awalnya, tim James Gosling mau kasih nama "Oak" (Pohon Ek) karena ada pohon besar di luar jendela kantornya. Tapi apa daya, nama itu sudah ada yang punya. Sambil pusing nyari nama pengganti, mereka nongkrong sambil minum kopi.
Gara-gara kopi yang mereka minum itu jenisnya Kopi Jawa (Java Coffee), ya sudah, mereka sepakat kasih nama Java saja. Nggak nyambung sama fungsinya? Memang. Tapi terbukti sukses besar sampai sekarang!
Kenapa Kerucut Lalin Berwarna Oranye Bisa Jadi Logo Video Player?
Mungkin ini yang paling nggak nyambung. VLC pemutar media, tapi logonya kerucut oranye yang biasa kita lihat di jalanan yang lagi diperbaiki.
Ceritanya lucu: Para pembuat VLC dulunya adalah sekumpulan mahasiswa di Prancis yang punya hobi aneh—mereka suka "mengoleksi" traffic cone asli dari jalanan kalau lagi pulang dari nongkrong malam-alam. Soalnya sering kali mereka pulang dalam kondisi mabuk. Jadinya lab komputer mereka jadi penuh sama kerucut lalu lintas itu.
Pas butuh ikon buat aplikasi buatan mereka, mereka cuma menoleh ke pojok ruangan, melihat tumpukan kerucut itu, dan bilang: "Itu aja jadiin logo!" Sisanya adalah sejarah.
Walau ada unsur nggak serius di sini, aplikasi ini sampai saat ini gratisan dan punya sesuatu yang istimewa. Dulu, waktu streaming video belum sekencang sekarang, orang-orang biasa mendownload video terlebih dulu sebelum ditonton. Dalam prosesnya, sering kali filenya rusak atau gambarnya nggak dikenali oleh aplikasi pemutar video di PC. Tentunya video ini nggak akan bisa ditonton.
Tapi kalau pakai aplikasi ini, semuanya bisa ditonton, apa pun kondisi filenya. VLC akan melewati bagian yang rusak dan menampilkan yang bisa ditampilkan.
Apa Pelajarannya?
Kadang kita terlalu stres mencari sesuatu yang "sempurna" atau "nyambung banget" dalam memulai sebuah karya. Padahal, tiga raksasa di atas membuktikan kalau sesuatu yang lahir dari hal-hal sederhana—bahkan dari benda yang ada di depan mata—bisa mendunia selama isinya berkualitas.
Jadi, jangan biarkan urusan "nama" atau "logo" bikin langkah kita berhenti. Mulai aja dulu, biarkan kualitas yang bicara, dan biarkan sejarah mencatat ceritanya sendiri.