14 Agu 2024

Sejenak Mengenal Perpustakaan Hidup: Penyimpanan Data di DNA dan di Otak

Ilustrasi surealis wajah transparan yang menyatu dengan awan cahaya dan energi berwarna biru ungu, menggambarkan suasana mimpi

Ilustrasi: Visual Dream (Wikimedia Commons)

Pernahkah Anda terbangun dari tidur dengan perasaan bingung karena baru saja mengalami mimpi yang terasa sangat nyata? Mungkin Anda bermimpi sedang mengobrol dengan teman lama, mendengar suara yang jernih, hingga melakukan aktivitas teknis seperti menyolder komponen elektronik. Dalam berbagai kesempatan, saya sering menuliskan kisah mimpi yang baru saya alami. Bagi saya, itu mengasyikkan.

Fenomena mimpi sebenarnya adalah jendela menuju cara kerja sistem penyimpanan data tercanggih di alam semesta: otak manusia.

Mimpi: Saat Pustakawan Otak Bekerja Lembur

Ketika kita tidur, otak tidak benar-benar beristirahat. Ia justru sedang sibuk melakukan "inventarisasi". Mimpi adalah momen di mana otak melakukan konsolidasi memori—proses memindahkan informasi dari penyimpanan sementara (RAM) ke penyimpanan permanen (Hard Drive).

Dalam mimpi, otak menarik arsip-arsip lama (seperti kenangan teman SMA) dan mencocokkannya dengan informasi baru yang kita pelajari seharian. Jika Anda bermimpi tentang sains setelah membaca artikel ilmiah, itu adalah tanda bahwa otak sedang mencoba "menjahit" pengetahuan baru tersebut ke dalam jaringan saraf Anda. Sensasi audio atau visual yang kuat dalam mimpi terjadi karena otak mengaktifkan saraf yang sama persis seperti saat kita terjaga. Bagi otak, tidak ada bedanya antara mendengar suara di dunia nyata atau memutar kembali rekaman suara dari arsip memori.

Dua Jenis "Hard Drive" dalam Tubuh Manusia

Tuhan dan alam memberikan kita dua sistem penyimpanan data yang berbeda fungsi namun sama-sama menakjubkan: DNA dan Sel Otak.

1. DNA: Cetak Biru Statis yang Abadi

DNA adalah penyimpanan data biologis yang menyimpan instruksi untuk membangun diri kita. Ia menyimpan data warna mata, bentuk hidung, hingga risiko kesehatan. Cara kerjanya mirip dengan kode biner komputer, namun menggunakan empat basis kimia (A, C, G, T).

Data di DNA bersifat statis—artinya, instruksi untuk membuat "warna rambut hitam" akan tetap sama sepanjang hidup Anda. Ilmuwan kini sudah sangat ahli membaca kode ini. Mereka bisa memetakan gen mana yang bertanggung jawab atas fitur fisik tertentu. Membaca DNA ibarat membaca buku manual yang cetakannya sudah tetap.

2. Otak: Jaringan Dinamis yang Terus Berubah

Berbeda dengan DNA, otak menyimpan data pengalaman. Namun, jangan bayangkan otak menyimpan file foto atau video di satu lokasi tertentu. Otak menyimpan data dalam bentuk pola sambungan antar sel saraf (sinapsis).

Bayangkan ingatan Anda tentang sebuah buah nanas. Di otak Anda, ingatan "nanas" tidak disimpan di satu titik. Ada pola saraf di area visual yang menyimpan bentuk sisiknya, ada pola di area penciuman untuk aromanya, dan ada pola di area bahasa untuk namanya. Ketika Anda memikirkan nanas, jutaan sel saraf di berbagai area ini "menyala" bersamaan membentuk sebuah pola harmoni.

Sistem ini sangat dinamis. Setiap kali Anda belajar hal baru tentang nanas, otak Anda secara fisik menumbuhkan cabang baru atau memperkuat sambungan yang sudah ada. Otak adalah hardware yang bisa menulis ulang dirinya sendiri setiap detik.

Perbandingan Tingkat Kerumitan: Buku Manual vs Samudera

Di sinilah letak perbedaannya. Ilmuwan sudah bisa "menerjemahkan" DNA karena pedomannya bersifat umum; kode DNA untuk "nanas" di satu pohon akan hampir sama dengan pohon lainnya.

Namun, di otak, pedomannya jauh lebih rumit. Meski setiap manusia memiliki "kantor" yang sama (misalnya, lobus temporal untuk suara), isi dari ingatan tersebut sangatlah pribadi. Pola saraf untuk kata "nanas" di otak Anda bisa berbeda dengan pola di otak orang lain karena melibatkan pengalaman emosional yang berbeda.

Ilmuwan saat ini sudah bisa mengenali lokasi aktivitas otak (apakah subjek sedang melihat atau mendengar), namun mereka masih berjuang untuk membaca isi spesifiknya. Membaca otak manusia bukan seperti membaca buku manual, melainkan seperti mencoba memetakan pola ombak di samudera luas yang tidak pernah diam.

Paradoks Tidur dan Realitas Digital

Satu hal yang paling menakjubkan adalah saat fase mimpi intens (REM), aktivitas listrik otak kita hampir identik dengan saat kita sedang bangun. Otak bekerja sangat keras, namun ia memiliki "saklar" otomatis yang melumpuhkan otot tubuh agar kita tidak benar-benar bergerak mengikuti mimpi.

Tanpa saklar ini, seseorang yang bermimpi sedang berlari akan benar-benar berlari di dunia nyata. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya simulasi yang bisa diciptakan oleh sistem penyimpanan dan pengolahan data otak kita.

Teknologi Masa Depan dari Dalam Tubuh

Memahami cara otak dan DNA menyimpan data membuka mata kita bahwa teknologi penyimpanan tercanggih bukanlah berada di pusat data raksasa milik perusahaan teknologi, melainkan di dalam setiap sel tubuh dan setiap helai sinapsis kita. Kita adalah perpustakaan berjalan yang kodenya masih terus berusaha dipecahkan oleh sains.


Sekarang, pernahkah Anda mengalami mimpi yang sangat detail seolah otak Anda sedang memutar file video lama? Bagikan cerita Anda di kolom komentar!

20 Mei 2024

Penyimpanan Ajaib pada Untaian DNA

Struktur DNA dan Basa Nitrogen

Ilustrasi: Struktur Double Helix DNA (Sumber: Wikipedia)

Waktu itu, Budi merasa sudah sangat canggih saat kantongnya berisi sebuah USB Flashdisk berkapasitas 4 GB. Beberapa tahun kemudian, ia beralih menggunakan Micro SD sekecil kuku yang mampu menampung ribuan foto. Kini, Budi bahkan tidak lagi membawa benda fisik; semua datanya "melayang" di penyimpanan awan (Cloud Storage) yang bisa ia akses kapan saja.

Namun, di balik kemudahan yang dinikmati Budi, ada kenyataan yang masif. Setiap menit, manusia di seluruh dunia menghasilkan jutaan video, foto, dan dokumen. Aktivitas digital kita telah menciptakan ledakan data yang sangat dahsyat, yang menuntut tempat penyimpanan yang semakin besar pula.

Menara-Menara Silikon yang Rakus

Untuk menyimpan onggokan data global tersebut, perusahaan raksasa harus membangun fasilitas yang disebut Pusat Data (Data Center). Bayangkan sebuah gudang raksasa seukuran beberapa lapangan bola yang berisi ribuan rak server. Gedung-gedung ini sangat rakus; mereka membutuhkan pasokan listrik yang sangat besar hanya untuk menjaga suhu mesin agar tidak terbakar.

"...Segala hal, mulai dari foto senyum Budi hingga lagu favoritnya, dipecah menjadi kombinasi tak terhingga dari angka 0 (mati) dan 1 (nyala). Fasilitas raksasa tadi sebenarnya hanyalah sebuah 'wadah fisik' yang sangat besar untuk menampung saklar elektronik kecil yang merepresentasikan angka-angka biner tersebut. Di dalam sebuah chip memori yang sekecil ujung jari pun, sebenarnya terdapat milyaran saklar mikroskopis yang bekerja tanpa henti untuk menjaga data-data tersebut tetap ada."

Efisiensi Kode: Mengapa DNA Lebih "Irit"?

Namun, tahukah Anda bahwa di dalam tubuh Budi sendiri sebenarnya sudah ada teknologi penyimpanan yang jutaan kali lebih hebat? Itulah DNA. Jika komputer menggunakan biner (0 dan 1), DNA menggunakan sistem kuaterner dengan empat huruf: A, C, G, dan T.

Mari kita bandingkan cara mereka menuliskan satu huruf saja. Misalkan Budi ingin menyimpan huruf "A".

  • Di dalam Gadget Budi: Komputer butuh 8 ruang (bit) untuk membentuk satu huruf "A", yaitu: 01000001.
  • Di dalam Untaian DNA: Karena DNA memiliki 4 jenis huruf, satu huruf DNA bisa mewakili dua angka biner. Huruf "A" komputer tadi cukup ditulis dengan 4 molekul DNA saja: C-A-A-C.

Jika Budi menuliskan sebuah kata pendek berisi 10 abjad, komputer harus menyusun 80 digit biner, sedangkan DNA hanya butuh 40 molekul. Secara logika bahasa, DNA dua kali lebih ringkas daripada teknologi digital tercanggih kita saat ini.

Pertarungan Ukuran: Rak Raksasa vs Butiran Debu

Bukan hanya menang di cara "menulis", DNA juga menang telak dalam hal ukuran fisik. Teknologi penyimpanan manusia (SSD atau Chip) mengandalkan materi silikon yang meski kecil, tetap membutuhkan "rumah" berupa plastik, kabel tembaga, dan isolator.

Sebaliknya, DNA tidak butuh kabel. Satu unit penyimpanan terkecilnya adalah satu molekul tunggal yang lebarnya hanya 2,5 nanometer. Sebagai gambaran: Jika sebuah chip Micro SD yang sangat kecil itu kita ibaratkan seukuran Stadion Bola, maka untaian DNA dengan kapasitas simpan yang sama hanya akan berukuran sebesar satu butir pasir di tengah lapangan tersebut.

Imajinasi Tanpa Batas: Data Global dalam Satu Tubuh

Keunggulan utama DNA terletak pada kepadatannya yang tidak masuk akal. Jika kita mengganti semua hard drive di pusat data dunia dengan DNA, seluruh data di internet saat ini bisa masuk ke dalam volume yang tidak lebih besar dari dua butir gula.

Jika kita berandai-andai menggunakan tubuh manusia sebagai media simpan, kapasitasnya akan membuat kita tercengang. Karena setiap sel manusia menyimpan sekitar 1,5 GB data, maka total kapasitas satu orang manusia dewasa mampu menampung sekitar 60 Zettabyte. Secara teori, hanya butuh 3 atau 4 orang seperti Budi untuk menyimpan seluruh data digital yang pernah diciptakan manusia di muka bumi ini (Google, YouTube, hingga rahasia negara).

Masa Depan yang Abadi namun Penuh Tantangan

Selain kapasitasnya, DNA memiliki keunggulan ketahanan. Hard drive bisa rusak dalam 10 tahun atau kehilangan daya magnetnya, namun DNA yang disimpan dengan benar bisa bertahan hingga ribuan tahun tanpa kehilangan satu karakter pun. Ia adalah media pengarsipan abadi.

Namun, untuk saat ini, Budi belum bisa mengganti Flashdisk-nya dengan tabung DNA. Penyimpanan DNA sintetis masih menghadapi tantangan besar:

  • Biaya: Proses pembuatan DNA buatan (sintesis) masih sangat mahal.
  • Kecepatan: Proses "mengetik" dan "membaca" data ke DNA masih membutuhkan reaksi kimia laboratorium yang memakan waktu lama, tidak sekejap mata seperti mengeklik file di komputer.

Meskipun masih dalam tahap pengembangan, masa depan di mana data digital menyatu dengan biologi sudah di depan mata. Suatu hari nanti, sejarah peradaban kita mungkin tidak lagi tertulis di atas piringan besi yang rapuh, melainkan di dalam untaian molekul yang juga membentuk denyut nadi kita sendiri.

6 Feb 2024

3 Contoh Keberadaan Unsur Nggak Nyambung di Dunia Tekno

Sesuatu yang nggak nyambung kalau dalam pembicaraan sering kali bikin kita gemes. Apa lagi kalau pas yang dibahas urusan yang serius. Kita udah terlanjur mikir keterkaitan antara sejumlah faktor dan minta tanggapan dari lawan ngomong, ternyata pihak sana membahas urusan yang nggak ada kaitannya. Jadinya harus menjelasin lagi.

Tapi kalau dalam konteks humor, tentu beda lagi. Sesuatu yang nggak nyambung justru bisa jadi sumber kelucuan. Namun ada juga sesuatu yang serius tapi di dalamnya mengandung sesuatu yang nggak nyambung. Dan itu malah jadi pembeda yang unik, serta memunculkan kesan, "Ternyata cuma sesederhana itu."

Topi Merah Warisan

Dalam dunia sistem operasi Linux, ada sebuah distro (alias versi) "berbayar" yang unik. Distro ini bernama Red Hat. Distro ini sebenarnya gratisan, tapi perusahaan yang bikin masih dapat keuntungan komersial. Pendapatannya bukan dari jualan lisensi sistem operasi, tapi jualan jasa bantuan dan pelayanan terkait sistem operasi ini.

Kenapa namanya harus "Red Hat"? Bukankah ini nggak nyambung dengan dunia teknologi informasi? Lalu, apakah biar kelihatan berani?

Bukan. Jawabannya sangat sederhana. Marc Ewing, sang pendiri, punya topi baseball merah pemberian kakeknya yang dia pakai terus-terusan waktu kuliah. Di lab komputer, kalau ada yang bingung, orang-orang bakal bilang, "Cari aja cowok yang pakai topi merah, dia jago!"

Akhirnya, topi merah itu jadi simbol "bantuan teknis". Sayangnya, topi itu sempat hilang, dan Marc saking sedihnya sampai menulis pesan di manual software-nya agar siapa pun yang nemuin tolong balikin. Nama "Red Hat" pun abadi sebagai bentuk rasa sayang dia ke topi pemberian kakeknya itu.

Apakah Software Ini Dibikin Orang Jawa?

Setidaknya, itulah yang terlintas di pikiran saya waktu kali pertama tahu kalau ada bahasa pemrograman yang bernama Java. Siapakah nama orang yang bikin bahasa pemrograman ini? Subroto? Paijo? Atau Sarinah? Kok, logonya sebuah cangkir berasap?

Ternyata penamaan ini lagi-lagi melibatkan sebuah ketidaknyambungan. Awalnya, tim James Gosling mau kasih nama "Oak" (Pohon Ek) karena ada pohon besar di luar jendela kantornya. Tapi apa daya, nama itu sudah ada yang punya. Sambil pusing nyari nama pengganti, mereka nongkrong sambil minum kopi.

Gara-gara kopi yang mereka minum itu jenisnya Kopi Jawa (Java Coffee), ya sudah, mereka sepakat kasih nama Java saja. Nggak nyambung sama fungsinya? Memang. Tapi terbukti sukses besar sampai sekarang!

Kenapa Kerucut Lalin Berwarna Oranye Bisa Jadi Logo Video Player?

Mungkin ini yang paling nggak nyambung. VLC pemutar media, tapi logonya kerucut oranye yang biasa kita lihat di jalanan yang lagi diperbaiki.

Ceritanya lucu: Para pembuat VLC dulunya adalah sekumpulan mahasiswa di Prancis yang punya hobi aneh—mereka suka "mengoleksi" traffic cone asli dari jalanan kalau lagi pulang dari nongkrong malam-alam. Soalnya sering kali mereka pulang dalam kondisi mabuk. Jadinya lab komputer mereka jadi penuh sama kerucut lalu lintas itu.

Pas butuh ikon buat aplikasi buatan mereka, mereka cuma menoleh ke pojok ruangan, melihat tumpukan kerucut itu, dan bilang: "Itu aja jadiin logo!" Sisanya adalah sejarah.

Walau ada unsur nggak serius di sini, aplikasi ini sampai saat ini gratisan dan punya sesuatu yang istimewa. Dulu, waktu streaming video belum sekencang sekarang, orang-orang biasa mendownload video terlebih dulu sebelum ditonton. Dalam prosesnya, sering kali filenya rusak atau gambarnya nggak dikenali oleh aplikasi pemutar video di PC. Tentunya video ini nggak akan bisa ditonton.

Tapi kalau pakai aplikasi ini, semuanya bisa ditonton, apa pun kondisi filenya. VLC akan melewati bagian yang rusak dan menampilkan yang bisa ditampilkan.

Apa Pelajarannya?

Kadang kita terlalu stres mencari sesuatu yang "sempurna" atau "nyambung banget" dalam memulai sebuah karya. Padahal, tiga raksasa di atas membuktikan kalau sesuatu yang lahir dari hal-hal sederhana—bahkan dari benda yang ada di depan mata—bisa mendunia selama isinya berkualitas.

Jadi, jangan biarkan urusan "nama" atau "logo" bikin langkah kita berhenti. Mulai aja dulu, biarkan kualitas yang bicara, dan biarkan sejarah mencatat ceritanya sendiri.