14 Sep 2022
Jebakan "Sok Tahu" dalam Kehidupan Sehari-hari
Pernahkah Anda bertemu seseorang yang baru belajar satu minggu tentang investasi, tapi bicaranya sudah seperti ahli finansial tingkat dunia? Atau mungkin, Anda pernah merasa sangat percaya diri bisa mengemudi lebih jago daripada rata-rata orang di jalanan? Jika iya, Anda mungkin sedang bersinggungan dengan fenomena psikologis yang disebut Efek Dunning-Kruger.
Memahami bias kognitif ini sangatlah penting agar kita nggak terjebak dalam rasa percaya diri yang semu, baik dalam pergaulan, hobi, maupun hubungan personal.
Efek Dunning-Kruger adalah bias kognitif di mana seseorang merasa jauh lebih kompeten daripada kemampuan aslinya. Lucunya, orang yang paling nggak tahu apa-apa justru cenderung menjadi orang yang paling percaya diri. Sebaliknya, mereka yang benar-benar ahli malah sering ragu dan merasa masih banyak kekurangan. Fenomena ini sering disebut sebagai "beban keahlian".
Justin Kruger dan David Dunning mencetuskan teori ini setelah terinspirasi oleh kisah konyol seorang perampok bank di tahun 1995. Si perampok melumuri seluruh tubuhnya dengan jus lemon sebelum beraksi karena ia tahu jus lemon bisa jadi tinta tak terlihat. Ia yakin kamera CCTV nggak akan bisa menangkap gambarnya. Sebuah "pengetahuan" yang sangat sedikit, tapi membuatnya merasa sangat tak terkalahkan.
Kurva Dunning-Kruger menggambarkan hubungan antara kompetensi dan kepercayaan diri seseorang yang berbentuk seperti tanjakan tajam, jurang dalam, lalu bukit yang landai. Di tahap awal, seseorang yang baru belajar sedikit hal sering kali mengalami lonjakan kepercayaan diri yang nggak realistis hingga mencapai "Puncak Kepercayaan Diri" yang sangat tinggi meskipun pengetahuannya sangat dangkal; inilah area di mana seseorang cenderung paling sok tahu karena mereka belum menyadari betapa luasnya bidang tersebut. Namun, seiring bertambahnya ilmu, mereka akan jatuh ke dalam "Lembah Keputusasaan" saat menyadari kerumitan yang sebenarnya, sebelum akhirnya perlahan-lahan membangun kembali keahlian dan kepercayaan diri yang stabil melalui proses belajar yang panjang dan rendah hati. Mengapa ini terjadi?
Ego: Kita secara alami nggak suka merasa di bawah rata-rata. Melebih-lebihkan kemampuan adalah cara instan untuk melindungi harga diri.
Kurangnya Pengetahuan: Ternyata, untuk menilai seberapa buruk kita dalam suatu bidang, kita justru butuh keterampilan di bidang tersebut. Tanpa dasar yang cukup, kita bahkan nggak sadar betapa nggak mampunya kita.
Seiring bertambahnya ilmu, seseorang biasanya akan turun dari puncak tersebut dan masuk ke lembah keputusasaan karena baru menyadari betapa kompleksnya masalah yang dihadapi. Baru setelah terus belajar, kepercayaan diri mereka akan naik kembali secara perlahan dan realistis.
Bagaimana Cara Menghadapinya?
Menghadapi orang yang sedang berada di "Puncak Kebodohan" itu gampang-gampang susah. Nggak ada orang yang suka dibilang idenya bodoh. Sebagai makhluk sosial, kita punya tendensi untuk selalu ingin benar. Jadi, kalau Anda bertemu teman atau kerabat yang sedang merasa paling tahu, jangan langsung dikonfrontasi.
Gunakan pendekatan yang halus. Bantulah mereka menyadari bahwa masalah tersebut lebih kompleks daripada yang mereka bayangkan melalui penalaran mereka sendiri.
Jika Anda punya pengaruh lebih (seperti kakak ke adik): Gunakan metode pembinaan atau coaching. Berikan umpan balik yang nggak menghakimi. Ajukan pertanyaan yang memicu mereka mengeksplorasi potensi masalah dari ide mereka sendiri. Dengan begitu, mereka akan belajar menganalisis situasi dengan lebih realistis.
Jika posisinya terbalik (seperti ke orang yang lebih tua): Anda harus pandai mengantisipasi kebutuhan mereka. Lakukan komunikasi secara rutin dan bagikan informasi pelengkap dari sumber yang mereka percayai. Tujuannya agar mereka melihat informasi tambahan darimu sebagai bantuan positif, bukan serangan terhadap ego mereka.
Efek Dunning-Kruger dialami oleh semua orang, termasuk kita. Jadi, kuncinya adalah tetap rendah hati dan terus membuka diri terhadap pengetahuan baru. Karena tanda orang yang benar-benar bijak adalah mereka yang sadar bahwa mereka nggak tahu segalanya.
Setelah membaca ini, apakah Anda jadi teringat seseorang (atau mungkin momen di masa lalu) yang pernah terjebak di Puncak Kebodohan ini?
Langganan:
Komentar (Atom)