Foto: Cucak Kutilang sedang membersihkan bulu-bulunya (Sumber: Wikimedia Commons)
Nyanyian Kesetiaan di Pucuk Pohon
Fajar baru saja menyingsing di sudut taman kota, menyelinap di antara celah dedaunan pohon trembesi yang kokoh. Di dahan-dahan tertingginya, sepasang kutilang telah lebih dulu bangun, menyambut cahaya dengan keriuhan yang jujur. Mereka tidak sekadar berkicau untuk alam, melainkan untuk satu sama lain. Sebagai makhluk monogami, kedua burung ini telah memilih untuk setia pada satu pasangan seumur hidup, membangun ikatan yang hanya akan terputus oleh maut. Suara "cuk-cuk-li-wang" yang bersahutan itu adalah cara mereka menegaskan janji setia, sebuah percakapan kasih sayang yang memenuhi udara pagi.
Mentari terus mendaki menghangatkan pagi. Di bawah naungan pohon itu, seorang anak kecil bersama ibunya duduk sambil menggoyang-goyangkan kakinya di bangku taman. Dengan suara jernih dan agak cadel, ia mulai bersenandung: "Di pucuk pohon cemara, burung kutilang berbunyi... bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu..."
Anak itu bernyanyi dengan mata berbinar, sementara di atas sana, sang induk kutilang sedang sibuk bekerja. Ia tidak hanya memetik buah untuk dirinya sendiri. Dengan ketajaman matanya, ia menyambar seekor ulat hijau yang gemuk dan belalang kecil di balik dedaunan. Meski sang induk menyukai manisnya buah, ada naluri purba yang membimbingnya: ia tahu bahwa bagi anak-anaknya yang masih lemah di dalam sarang, protein adalah segalanya. Dengan penuh kehati-hatian, ia menyuapkan serangga-serangga kaya nutrisi itu ke paruh-paruh kecil yang menganga lebar demi memastikan sayap-sayap mungil buah hatinya tumbuh kuat di masa depan.
Namun, pengabdian kutilang tidak berhenti di bibir sarang. Burung bersahaja ini adalah sang rimbawan sejati yang bekerja tanpa gaji. Saat ia terbang dari satu pohon ke pohon lain untuk memakan buah-buahan, ia sekaligus menjadi agen penyebaran tanaman yang paling tangguh. Biji-biji yang ia telan akan melewati proses alami di dalam perutnya, lalu dijatuhkan kembali ke bumi di tempat-tempat yang jauh. Melalui aktivitas si kutilang, biji-biji itu seolah mendapatkan nyawa baru; mereka akan tumbuh menjadi tunas-tunas pohon di lereng bukit atau lahan gersang yang sulit dijangkau manusia. Tanpa disadari, setiap kepakan sayap kutilang adalah langkah reboisasi alami yang menjaga hijaunya bumi kita.
Ia memang tak memiliki sayap lebar sekuat elang yang merajai langit, tak pula memiliki ekor megah seindah merak yang mengukau mata. Kutilang hanyalah burung kecil yang sederhana, bahkan sering kali dianggap biasa saja. Namun, di balik kesetiaan pada pasangannya dan perannya sebagai penyemai benih kehidupan, ia adalah sang penyeimbang yang rendah hati. Ia memastikan berbagai tanaman tetap tumbuh dan napas ekosistem tetap berdenyut, agar esok pagi, anak-anak manusia masih bisa mendengar nyanyian kehidupan.
Alarm Keheningan: Sebuah Peringatan
Namun, melalui semarak kicau Kutilang kita perlu waspada terhadap sebuah pertanda. Tatkala kicau kutilang mulai menghilang dari dahan-dahan pohon, itu bukanlah tanda ketenangan, melainkan sinyal kuat bahwa alam sedang sekarat. Hilangnya suara mereka berarti alarm bahwa pestisida telah meracuni tanah, polusi telah menyesakkan udara, dan rantai kehidupan telah terputus. Tanpa kutilang, pohon-pohon akan kehilangan penanamnya dan serangga hama akan berpesta merusak tanaman kita. Keheningan mereka adalah luka bagi lingkungan, sebuah tanda bahwa keseimbangan yang selama ini terjaga diam-diam telah runtuh di depan mata kita.