15 Mei 2022
Menaklukkan Waktu, Mengapa Harus Ada Deadline
Pernah nggak sih Anda punya rencana buat renovasi tipis-tipis kamar tidur,
belajar bahasa baru, atau sekadar merapikan album foto digital, tapi
ujung-ujungnya nggak pernah selesai? Rasanya rencana itu mengembang terus sampai
memenuhi waktu luang yang Anda miliki, tapi hasilnya nihil. Kalau Anda pernah
merasakannya, selamat! Anda baru saja membuktikan sebuah teori: pekerjaan akan
selalu berkembang demi mengisi waktu yang tersedia. Inilah alasan kenapa kita
tetap butuh yang namanya tenggat waktu atau deadline, bahkan untuk urusan
personal yang nggak ada hubungannya sama bos di kantor. Tanpa deadline, kegiatan
kita bakal melar tanpa ujung. Masalah utama dari aktivitas personal adalah nggak
ada orang yang menagih hasilnya. Akibatnya, fokus kita mudah buyar. Deadline di
sini fungsinya bukan untuk bikin stres, tapi sebagai alat bantu buat menciptakan
fokus. Lalu, gimana cara nentuin batas waktu kalau kita sendiri yang jadi
"manajernya"? Triknya adalah dengan menempelkan target pribadi Anda ke acara
atau momen besar yang nggak bisa digeser. Misalnya, kalau Anda mau mulai belajar
masak, pasang target: "Saya harus bisa bikin menu steak yang enak pas ulang
tahun pasangan bulan depan." Karena tanggal ulang tahun nggak mungkin
dinegosiasi atau ditunda, Anda bakal lebih termotivasi buat latihan tiap minggu
dibanding cuma bilang "Ya, nanti kalau ada waktu belajar masak." Saat nentuin
deadline di tahap awal, kita sering kali belum paham detail kerjanya. Nggak
apa-apa kalau Anda mau pasang target yang agak ambisius. Hal ini justru bagus
buat memacu adrenalin dan bikin kita lebih tegas milih mana yang prioritas. Tapi
ingat, tetap harus masuk akal. Jangan bilang mau lari maraton dalam dua minggu
kalau sekarang jalan kaki ke minimarket saja sudah ngos-ngosan. Kalau targetnya
mustahil, otak kita malah bakal "mogok" duluan sebelum mulai. Jadi, ambisius
boleh, tapi tetep masuk akal. Satu tips lagi: kalau target Anda berhubungan
dengan acara besar (seperti contoh ulang tahun tadi), pastikan deadline pribadi
Anda selesai beberapa hari sebelumnya. Ini buat kasih Anda "napas" kalau ada hal
tak terduga yang terjadi. Anda mungkin sering pengen menggeser jadwal. Atau
mungkin malah sering melakukan? Ini nih godaan terberat. Pas sudah dekat
deadline tapi belum selesai, rasanya pengen banget bilang, "Ah, minggu depan aja
deh." Hati-hati, kebiasaan menggeser deadline bisa merusak kredibilitas kita
terhadap diri sendiri. Sekalinya kita longgar, otak akan berpikir bahwa deadline
itu nggak saklek. Efeknya? Kita bakal tetap santai-santai sampai mendekati
tanggal baru tersebut, dan polanya bakal berulang terus. Kalau memang ada bagian
yang belum selesai, jangan geser seluruh jadwalnya. Tetap selesaikan apa yang
bisa diselesaikan tepat waktu. Bagian yang belum rampung bisa dikerjakan di
"fase tambahan". Dengan cara ini, beban kerja sebenarnya sudah berkurang drastis
karena sebagian besar tugas sudah beres di deadline pertama. Komitmen adalah
kunci. Sama seperti di organisasi, dalam kehidupan personal pun Anda butuh
dukungan. Ceritakan target Anda ke teman dekat atau pasangan. Dengan gitu, Anda
merasa punya tanggung jawab moral buat menyelesaikannya. Intinya, sesederhana
apa pun urusan pribadi, kasih dia batasan waktu. Deadline bukan musuh, melainkan
sahabat yang membantu kita mencapai versi diri yang lebih produktif.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar