19 Jun 2023

Eksplorasi "Ngeyel" dalam Penelusuran Logika Seribu Kota dalam Lagu Sewu Kutho

Lagu Sewu Kutho ciptaan mendiang Mas Didi Kempot awal kali muncul di era awal 2000. Namun dalam jangka waktu dekade kemudian, lagu ini masih saja sering terdengar. Banyak penyanyi yang membawakan ulang lagu ini dengan versinya masing-masing. Sebuah lagu yang menceritakan pencarian cinta yang sangat ngeyel.

Coba bayangkan, seribu kota dijelajahi demi menelusuri jejak sang idaman hati. Berapa ongkos yang harus dikeluarkan? Emosi seperti apa yang dialami selama perjalanan itu? Jika berandai-andai seperti apa perjalanan itu? Ayo kita iseng menelusurinya perlahan-lahan hingga menggenapi penelusuran hingga mencapai 1000 kota.

Jika kita mulai membedah peta, perjalanan ini ternyata jauh lebih gila daripada kedengarannya. Dimulai dari Indonesia, sang pengembara harus menyisir 514 kabupaten dan kota dari Sabang sampai Merauke. Namun, setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun menyeberangi pulau-pulau di tanah air, petualangan ini nyatanya baru mencapai separuh jalan. Target "seribu kota" masih jauh di cakrawala.

Sang tokoh harus mulai melintasi batas negara. Bayangkan ia harus menembus hutan di Timor Leste, menyisir distrik-distrik di Brunei, hingga menjelajahi 160 daerah di Malaysia Barat dan Timur. Bahkan setelah menginjakkan kaki di Singapura dan mendaki pegunungan di 96 distrik Papua Nugini, ia baru mengumpulkan 789 wilayah. Rasa lelah dan rindu yang menyayat hati itu harus ia bawa hingga ke Filipina, menyisir 149 kota di sana agar angka 938 kota bisa tercapai. Masih kurang 62 kota lagi! Ia harus menyeberang ke Thailand atau Vietnam hanya untuk menggenapi janji dalam liriknya.

Sekarang, mari kita bicara soal logika waktu. Jika kita berasumsi sang pengembara ini sangat disiplin dan hanya menetap satu hari untuk satu kota, maka untuk menuntaskan daftar 1.000 kota tersebut, ia membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun 9 bulan. Itu pun dengan catatan tidak ada hari libur, tidak ada kendala cuaca, dan tidak ada drama birokrasi di perbatasan negara.

Bayangkan emosi yang terkuras selama hampir tiga tahun hidup di jalanan. Setiap pagi ia bangun di kota yang berbeda, mendengar dialek yang asing, namun tetap dengan tujuan yang sama: mencari jejak yang belum tentu ada. Ongkos yang dikeluarkan tentu tak ternilai, bukan hanya soal materi, tapi soal sisa-sisa harapan yang kian menipis setiap kali ia meninggalkan kota ke-100, ke-500, hingga ke-999. Lagu ini bukan sekadar tentang cinta yang hilang, tapi tentang sebuah obsesi yang melampaui batas geografis Asia Tenggara.

Namun, pencarian ini akan menjadi jauh lebih dramatis jika kita menghitung jalur yang ditempuh melalui laut. Mengingat sebagian besar kota yang dilewati berada di negara kepulauan, sang pengembara tidak mungkin hanya mengandalkan jalur darat. Bayangkan ia harus menunggu jadwal kapal fery atau pelayaran rakyat dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Jika kita mengasumsikan setiap perpindahan antar pulau membutuhkan waktu rata-rata dua hingga tiga hari perjalanan laut—termasuk waktu tunggu di dermaga—maka durasi pencarian bisa membengkak menjadi 5 hingga 6 tahun. Di sinilah letak ironi terdalamnya: selama bertahun-tahun ia hanya ditemani deru mesin kapal dan aroma garam laut, sementara sosok yang dicari mungkin sudah menetap di sebuah kota yang justru sudah lama ia tinggalkan.

Di tahun segitu, anggap saja sang tokoh berkendara dengan motor. Motor yang ia pakai adalah Honda Astrea Grand keluaran tahun '97. Seberapa jauh angka pengukur kilometer di dashboard motor itu? Berapa kali pengukur jarak itu berputar menuju nol kembali? Rantai yang aus, ban yang berkali-kali diganti, dan mesin yang tetap menderu meski sudah melintasi ribuan kilometer panas dan hujan, menjadi saksi bisu betapa keras kepalanya sebuah rasa rindu.

Lalu kenapa pakai motor Astrea Grand? Nggak ada alasan yang terlalu istimewa juga kenapa pakai motor ini, hanya karena aku memiliki motor ini dan aku terkesan dengan mesin dan sasisnya yang bandel. Pada akhirnya, Sewu Kutho bukan hanya soal geografi, tapi soal seberapa jauh seseorang bersedia melangkah sebelum akhirnya belajar untuk melepaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar